AGORA
Alexandria merupakan sebuah kota yang memiliki tingkat kebudayaan yang berkembang dengan sangat pesat, karena di sanalah berkembanglah ilmu pengetahuan dan filsafat. Salah satu tempat yang terkenal di Alexandria adalah Agora. Di tempat itulah orang-orang biasanya saling memperdebatkan suatu hal. Itulah juga yang dilakukan oleh mereka dalam hal keagamaan, seperti kepercayaan dewa Serafin (Serafian) dan agama Kristen.
Dengan dilatarbelakangi oleh tempat tersebut, maka diangkatlah suatu film, yang berjudul “Agora”. Film ini mengisahkan tentang kehidupan masyarakat Alexandria yang plural. Film tersebut melihat kepluralisan masyarakat tersebut dari sudut pandang kehidupan religius atau agama. Pluralisasi inilah yang menyebabkan munculnya pertentangan dan pertikaian dalam suatu masyarakat. Pihak-pihak yang terkait saling memperdebatkan bahwa kepercayaannyalah yang paling benar.
Dalam film ini menceritakan bahwa orang-orang Kristen di bawah pimpinan seorang uskup yang fundamentalis berusaha untuk menyebarkan agamanya dan berusaha mempertobatkan orang-orang yang bagi mereka adalah kafir dan tidak mengenal agama. Di lain pihak orang-orang yang menganut ajaran Serafin, dengan segala filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, berusaha juga untuk menyebarkan kepercayaan mereka. Mereka juga menentang dan melawan ajaran Kristen. Dengan adanya pertentangan dan perbedaan pendapat tersebut, maka muncullah peperangan di antara orang-orang Alexandria, sehingga banyak orang yang mati.
Film ini diperankan oleh beberapa tokoh, seperti Davus, yang semula adalah seorang budak dari salah seorang penganut Serafian, tapi kemudian dibebaskan dan memeluk agama kristen. Hypaetia, seorang filsuf wanita yang cantik, merupakan orang yang memeluk kepercayaan Serafin. Orestes, murid dari Hypaetia, yang semula membenci agama Kristen, tetapi dengan sangat terpaksa harus memeluk agama Kristen, yang sangat dibencinya. Selain ketiga tokoh sentaral tersebut, film ini juga diperankan oleh banyak tokoh lainnya yang membantu.
Pertikaian antara orang-orang Alexandria terjadi selama beberapa hari. Akhirnya berdasarkan dengan keputusan dari pemerintah, maka pertikaian ini dimenangkan oleh orang-orang Kristen. Para penganut Serafian dipaksa untuk meninggalkan kota tersebut. Semua alat ibadah dibakar dan dihancurkan. Buku-buku, yang menjadi sumber pengetahuan dari para penganut Serafin dibakar dan dihancurkan. Davus, seorang budak dari Hypaetia dibebaskan dan memilih masuk Kristen, karena tergerak oleh kegiatan-kegiatan karitatif yang dilakukan oleh orang-orang Kristen.
Setelah kepergian para penganut Serafian, di Agora mulai muncul kepercayaan baru. Itulah orang-orang yang menganut kepercayaan Yahudi. Karena merasa bahwa kepercayaan merekalah yang paling benar, maka orang-orang Kristen, yang pada saat itu merupakan agama yang mayoritas berusaha untuk mengusir para penganut Yahudi. Untuk membalas tindakan tersebut, orang-orang Yahudi dengan tipu muslihat mengumpulkan orang-orang Kristen di suatu ruangan dan mengurung mereka di sana, lalu melempari mereka dengan batu. Orang Kristen juga tidak mau kalah, mereka memberontak dan membunuh para penganut Yahudi. Pertumpahan darah kembali terjadi di sana. Hal tersebut akhirnya memaksa para penganut Yahudi untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa tahun berlalu, seorang gubernur untuk Agora terpilih. Ia adalah Orestes, musuh bebuyutan kaum Kristen. Agama Kristen pada saat itu merupakan agama yang mayoritas, dan juga menguasai pemerintahan. Oleh karena itu, mau tidak mau Orestes harus memeluk agama Kristen, agar ia dapat memerintah di sana. Hypaetia, yang mengikuti Orestes, kembali ke Agora. Di sana ia ditentang oleh Gereja, karena ia dianggap sebagai bidaah dan kafir. Dengan segala kemampuannya dalam bidang ilmu pengetahuan, dan filsafat, ia berusaha untuk memecahkan bahwa bumi bukanlah persegi tetapi bulat pekat, di mana teori ini bertentangan dengan yang diajarkan oleh Gereja, bahwa bumi ini adalah persegi. Hal inilah yang dianggap oleh Gereja sebagai bidaah.
Karena Hypaetia memilih untuk tidak memeluk agama manapun, maka Gereja dengan segala upaya berusaha untuk membunuhnya. Setelah Orestes menganut agama Kristen, Hypaetia tidak lagi memiliki perlindungan. Melihat kesempatan inilah, maka orang Kristen memutuskan membunuhnya. Mereka membawa Hypaetia ke dalam Gereja dan membunuhnya di sana dalam keadaan telanjang dan di hadapan sakramen maha kudus. Film ini ditutup dengan pembunuhan dari Hypaetia.
